GEOGRAFI & DEMOGRAFI
Kabupaten Garut terletak antara 107º 46' -
107º 6' Bujur Timur dan 5º 50' - 1º 20' Lintamg Selatan, dengan
luas areal 306.519 Ha (3.065,19 km²) atau sebesar 6,94% dari luas
Wilayah Jawa Barat.
Secara administratif Wilayah Kabupaten Garut meliputi 31 kecamatan
dan 403 desa, mempunyai batas wilayah di Sebelah Utara berbatasan
dengan Kabupaten Sumedang, di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten
Cianjur dan Bandung, disebelah timur berbatasan dengan Kabupaten
Tasikmalaya dan di sebelah Selatan berbatasan langsung dengan Samudera
Indonesia.
Kabupaten Garut mempunyai iklim type C atau
agak basah, dengan curah hujan rata-rata tahunan 2.589 mm, dengan
bulan basah 9 bulan dan bulan kering 3 bulan. Suhu udara rata-rata
29ºC.
Kondisi Kabupaten Garut merupakan wilayah yang rawan bencana alam
dan rentan terhadap gempa gesekan tanah. Penggunaan lahan di daerah
ini didominasi oleh pemanfaatan usaha lahan kering berupa perkebunan
dan hutan.
Jenis tanah terdiri dari sedimen hasil letusan
Gunung Papandayan dan Gunung Guntur dengan bahan induk batuan tuf
dan batuan yang mengandung kwarsa.
Jenis tanah komplek podsolik merah kekuning-kuningan, podsolik kuning
dan regosol merupakan bagian yang paling luas terutama di bagian
Selatan, sedangkan di bagian Utara didominasi tanah andosol yang
memberikan peluang terhadap potensi usaha sayur-mayur.
Penggunaan lahan yang diusahakan untuk pertanian
tanaman pangan, perkebunan dan kehutanan mencapai 95,20% dari total
luas wilayah, dengan perincian lahan sawah 49.912 Ha atau 17,10%,
tanaman pangan lahan kering (tegalan dan kebun campuran) seluas
97.401 Ha atau 33,38%, lahan perkebunan 35.756,23 Ha atau 12,25%
dari lahan kehutanan seluas 108.741,14 Ha atau 37,27%.
Jumlah penduduk Kabupaten Garut pada tahun
1999 tercatat 1.901.462 orang. Masyarakat Garut yang agamis dengan
sebagian besar pemeluk agama Islam yakni sekitar 99,55% dan 0,25%
Kristen dan pemeluk agama lainnya 0,20% yang terkonsentrasi di Kecamatan
Garut Kota.
Perkembangan perekonomian regional menunjukkan
pertumbuhan yang cukup meningkat, Pendapatan Domestik regional Bruto
(PDRB) pada tahun 1999 tercatat sebesar Rp 3.269.416 juta atas dasar
harga berlaku yang keseluruhannya dihasilkan dari produk non migas.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai tolok ukur kemampuan daerah
dalam melaksanakan kesinambungan dan pelaksanaan Otonomi Daerah
menunjukkan hasil yang terus meningkat.