Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

PRODUK UNGGULAN KABUPATEN GARUT

JERUK GARUT

Citra Kabupaten Garut sebagai sentra Produksi Jeruk di Jawa Barat khususnya dan nasional pada umumnya, diperkuat melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 760/KPTS.240/6/99 tanggal 22 Juni 1999 tentang Jeruk Garut yang telah ditetapkan sebagai Jeruk Varietas Unggul Nasional dengan nama Jeruk Keprok Garut I.

Penetapan tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa Jeruk Garut merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan nasional yang perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitas maupun kuantitas produksinya.

Selain sebagai buah ciri khas Kabupaten Garut, jeruk merupakan komoditas sub-sektor pertanian tanaman pangan yang mempunyai prospek cukup cerah dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Permintaan pasar terhadap komoditas Jeruk Garut dari tahun ke tahun terus meningkat dengan segmen pasar yang sangat bervariasi. Hal ini sejalan dengan meningkatnya daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai komoditas unggulan khas daerah, Jeruk Garut mempunyai peluang tinggi untuk terus dikembangkan karena keunggulan komparatif dan kompetitifnya serta adanya peluang yang masih terbuka luas. Dengan berbagai usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya, Jeruk Garut akan mampu bersaing dengan produk sejenis baik pada tingkat lokal maupun nasional seperti halnya Jeruk Medan, Jeruk Pontianak serta jeruk impor seperti Jeruk Mandarin dan Jeruk New Zealand.

Investasi pada komoditas ini cukup prospektif dan dapat memberikan nilai tambah ekonomis yang cukup tinggi baik bagi para petani maupun investornya.

Dari studi kelayakan yang dilakukan pada tahun 1997 menunjukkan, untuk tanaman jeruk seluas 1 Ha (sekitar 500 pohon) akan memberikan gambaran keuntungan riil pada tahun ke-4 sebesar Rp 39.966.000,00

Sebagai daerah sentra produksi jeruk, Pemerintah Daerah Garut yang didukung oleh pihak-pihak terkait terus berusaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksinya. Gambaran perkembangan produksi Jeruk Garut dapat dilihat dari data berikut ini.

Perkembangan Produksi Jeruk Garut Periode 1995-1999
Tahun Tambah Tanaman
(pohon)
Tanaman Menghasilkan
(pohon)
Produksi
(ton)
Hasil per Pohon
(kg)
1995 79,519 157,443 6,109 39.13
1996 169,887 218,448 8,988 41.14
1997 156,217 388,393 16,638 42.84
1998 107,751 740,742 32,697 44.14
1999 67,240 504,269 23,998 47.59

Sumber: Kompilasi Data Kabupaten Garut Tahun 2000

Dari data diatas dapat dilihat bahwa selama kurun waktu 1995 sampai 1998 terjadi peningkatan kuantitas produksi yang cukup tinggi, dimana selama empat tahun terjadi peningkatan sebanyak 5 kali lipat. Peningkatan kuantitas tersebut sejalan adanya peningkatan dalam jumlah pohon yang menghasilkan serta peningkatan rata-rata jumlah jeruk yang dihasilkan tiap-tiap pohon.

Pada tahun 1999 terjadi penurunan kuantitas produksi yang cukup besar sejalan dengan penurunan jumlah pohon yang menghasilkan, padahal rata-rata jeruk yang dihasilkan tiap pohon mengalami peningkatan. Adanya penurunan tersebut antara lain disebabkan semakin banyak pohon-pohon jeruk yang sudah tua dan tidak lagi produktif sementara pohon-pohon penggantinya masih belum mampu berproduksi secara maksimal. Masalah ini merupakan tantangan tersendiri bagi Pemerintah Daerah Garut yang telah mencanangkan lebih dari satu juta (1.3 juta) pohon jeruk siap berproduksi pada tahun 2000.

Berbagai masalah berkaitan kualitas dan kuantitas produksi Jeruk Garut harus menjadi perhatian serius Pemerintah Daerah Garut dan ditangani secara sungguh-sungguh oleh berbagai pihak terkait untuk tetap mempertahankan dan terus meningkatkan eksistensi Garut sebagai Daerah Sentra Produksi Jeruk.

MINYAK AKAR WANGI

Minyak Akarwangi (Akarwangi) merupakan salah satu komoditas unggulan daerah Kabupaten Garut yang relatif masih baru. Sebagaimana halnya dengan teh hijau dan tembakau yang merupakan bagian dari sub-sektor perkebunan. Minyak Akarwangi mempunyai prospek yang cerah untuk terus dikembangkan karena mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif serta masih terbukanya pangsa pasar, baik pasar domestik maupun pasar luar negeri.

Budi daya Akarwangi di Kabupaten Garut didasarkan pada keputusan Bupati Kabupaten Garut Nomor : 520/SK.196-HUK/96 tanggal 6 Agustus 1996, yang diantaranya menetapkan luas areal perkebunan Akarwangi dan pengembangannya oleh masyarakat seluas 2.400 Ha dan tersebar di empat kecamatan, yaitu kecamatan Samarang seluas 1.200 ha, Kecamatan Bayongbong seluas 250 ha, Kecamatan Cilawu seluas 200 ha, dan Kecamatan Leles seluas 750 ha.

Dari luas areal pengembangan tersebut, luas yang digarap pada setiap tahunnya mencapai rata-rata 1600 ha dengan menghasilkan minyak akar wangi rata-rata sebanyak 54 ton.

Saat ini kegiatan pengembangan Akarwangi melibatkan 4.027 orang anggota masyarakat (Kepala Keluarga) yang terdiri dari 1.964 orang sebagai pemilik dan 2063 orang sebagai petani/penggarap. Mereka tergabung dalam 28 Kelompok Tani yang tersebar di Kecamatan Samarang 18 Kelompok Tani, Leles 5 Kelompok Tani, Cilawu 4 Kelompok Tani dan Bayongbong 1 Kelompok Tani. Jumlah pengolah atau penyuling sebanyak 33 unit yang tersebar di Kecamatan Samarang 21 unit, Leles 9 unit, Bayongbong 1 unit dan Cilawu 2 unit.

Sebagai salah satu bahan dasar untuk pembuatan parfum dan kosmetika lainnya, pemasaran minyak akarwangi sampai saat ini tidak mengalami hambatan yang berarti. Produksi minyak Akarwangi Garut sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya semuanya terserap pasar dengan harga yang memadai (harga sesuai dengan harga yang berlaku), Walaupun sebenarnya harga tersebut masih belum optimal karena disesuaikan dengan kualitas produk yang dijual. Dengan kata lain, jika kualitas minyak akarwangi dari Garut bisa lebih ditingkatkan kualitasnya maka harganya pun akan jauh lebih mahal dari pada harga yang berlaku saat ini.

Sampai saat ini sesuai dengan data yang ada, pasar luar negeri yang menyerap produk Minyak Akarwangi Garut adalah para pengusaha dari kawasan Asia, Eropa dan Amerika khususnya negara-negara seperti India, Jepang, Inggris, Belanda dan Amerika Serikat. Peluang ekspor untuk pemasaran minyak Akarwangi yang juga masih cukup terbuka khususnya ekspor untuk kawasan Asia Selatan dan Asia Timur, Eropa Timur dan Amerika Selatan. Apalagi jika diingat bahwa jumlah produsen atau negara pesaing di pasaran internasional masih sangat terbatas. Saat ini hanya negara Tahitti dan Borbon yang mengbangkan jenis komoditi yang sama. Hasil produksi Minyak Akarwangi asal Kabupaten Garut termasuk nomor 1 di dunia, tetapi produksinya masih sangat terbatas baik dalam teknologi maupun permodalannya.

Perkembangan budidaya akarwangi di daerah Garut, khususnya dalam dua tahun terakhir ini dapat dijelaskan sebagai berikut : terjadi peningkatan dalam luas areal tanaman dan luas areal tanaman yang menghasilkan dari 1.803 ha dan 1.290 ha pada tahun 1998 menjadi 2.073 ha dan 1.469 ha pada tahun 1999. Hal itu berarti terjadi pertumbuhan luas tanaman yang menghasilkan sebesar 13.87 %.

Berkaitan dengan produksi bahan mentah dan hasil olahan, terjadi peningkatan dari 15.444 ton dan 61.68 ton pada tahun 1998 menjadi 18.626 ton dan 74.51 ton pada tahun 1999. Untuk bahan mentah Akarwangi berarti terdapat peningkatan sebesar 20.61 % dan untuk hasil olahan terjadi peningkatan sebesar 20.8 %. Sementara untuk volume dan nilai eksport dari komoditas minyak Akarwangi pada tahun 1999 mencapai 36.650 kg dengan nilai keseluruhan sebesar US $ 680.703,50.

Berdasarkan data-data diatas dapat dikatakan bahwa minyak Akarwangi dapat diandalkan sebagai salah satu komoditas unggulan Kabupaten Garut, khususnya untuk sub sektor daerah perkebunan, dimana prospeknya cukup cerah dan mampu memberikan nilai ekonomis yang cukup tinggi baik bagi petani dan pengelolanya maupun bagi pemerintah daerah setempat.

Beberapa masalah yang muncul berkaitan dengan pengembangan komoditas minyak Akarwangi antara lain:

  1. Jalur tata niaga komoditas Akarwangi masih terlalu panjang, khususnya jika dikaitkan dengan keberadaan para broker (calo).
  2. Kurangnya kerjasama diantara sesama pemilik/pengelola penyulingan, keterbatasan pemilik modal, dan akses terhadap permodalan.
  3. Keterbatasan penguasaan teknologi yang memadai, sehingga kualitas minyak Akarwangi yang dihasilkan relatif masih rendah.

Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah yang ada seperti restrukturisasi jalur tata niaga, pembentukan koperasi atau Kelompok Usaha Bersama (KUB), dukungan permodalan baik melalui kemitraan maupun lembaga keuangan yang ada, serta peningkatan teknologi penyulingan, diharapkan dapat segera mewujudkan peningkatan nilai tambah pendapatan bagi petani dan pengelolanya, yang pada gilirannya akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Setempat (PADS).

DOMBA GARUT

Domba Garut atau Domba Priangan merupakan hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba Merino dari Asia Kecil dan domba ekor gemuk dari Afrika. Domba ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Domba Garut.

Ciri-ciri fisiknya antara lain:

  1. Badan agak besar. Domba jantan dewasa mempunyai bobot 60-80 kg, sedangkan yang betina mempunyai bobot 30-40 kg.
  2. Domba jantan memiliki tanduk yang cukup besar, melengkung kearah belakang, dan ujungnya mengarah kedepan sehingga berbentuk seperti spiral. Pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu.
  3. Domba betina tidak memiliki tanduk.
  4. Ekornya pendek dan pangkalnya agak besar (gemuk).
  5. Lehernya agak kuat sehingga cocok untuk domba aduan.
  6. Bentuk telinganya ada yang panjang, pendek dan sedang yang terletak dibelakang pangkal tanduk.
  7. Bulunya lebih panjang dan halus jika dibandingkan dengan domba asli, berwarna putih, hitam, cokelat, atau kombinasi dari ketiga warna tersebut.
  8. Domba ini baik untuk penghasil daging.

Teknologi yang dibutuhkan untuk memelihara Domba Garut, baik usaha peternakan maupun usaha penggemukan sangat sederhana. Teknologi yang dibutuhkan meliputi penentuan lokasi, perkandangan dan perlengkapan.

Penentuan lokasi peternakan domba perlu memperhatikan dan mempertimbangkan faktor lingkungan, sumber daya alam, faktor sosial, faktor ekonomi dan faktor hukum yang mendukung pembudidayaan domba itu sendiri.
Kebijakan Pemda Kabupaten Garut telah menetapkan lokasi peternakan Domba Garut yang meliputi Kecamatan Wanaraja, Kecamatan Banyuresmi, Kecamatan Sinaajaya, Kecamatan Banjar Wangi, Kecamatan Bungbulang, dan Kecamatan Cisewu sebagai sentra produksi domba pedaging.

KENTANG

Salah satu komoditas pertanian, khususnya dari sub sektor tanaman hortikultura yang bisa menjadi komoditas unggulan Kabupaten Garut adalah kentang. Sebagaimana halnya Jeruk Garut, kentang mempunyai prospek yang sangat cerah untuk terus dikembangkan serta mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, dimana peluang pasar masih terbuka lebar baik untuk pasar domestik maupun untuk pasar luar negeri.

Selain itu, diketahui pula bahwa kentang mempunyai kandungan zat karbohidrat yang tinggi, lebih tinggi dari berbagai sumber karbohidrat yang lain seperti beras,jagung atau gandum. Hal tersebut menjadikan kentang sebagai prioritas alternatif yang mampu mensubstitusi kebutuhan pangan pokok masyarakat. Bahkan untuk kalangan tertentu (penderita diabetes, misalnya), kentang merupakan makanan pokok untuk diet, karena kandungan kadar gulanya yang rendah. Singkatnya, kentang merupakan komoditas yang penting dan mampu berperan untuk memenuhi gizi masyarakat.

Mengingat pola konsumsi masyarakat terhadap makanan terutama di perkotaan, menjadikan kentang sebagai menu makanan sehari-hari yang dikonsumsi bersama-sama dengan ayam goreng. Restoran fast food dan berbagai jenis penganan juga menggunakan kentang sebagai bahan/ menu utamanya. Berbagai kenyataan tersebut semakin menegaskan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap kentang.

Prospek penyerapan dan permintaan pasar terhadap komoditas kentang, dari tahun ke tahun terus meningkat Hal itu sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk, tingkat pendidikan masyarakat yang lebih memahami peranan dan nilai-nilai gizi. Peningkatan pendapatan/daya beli masyarakat yang semakin membaik, telah ikut serta mengubah preferensi (kesukaan) masyarakat terhadap kentang. Perkembangan berbagai industri pengolahan hasil-hasil pertanian, dimana kentang dapat diolah menjadi snack atau makanan kecil juga membuat permintaan terhadap kentang sebagai bahan baku terus meningkat.

Peningkatan permintaan pasar terhadap komoditas kentang, dapat dilihat dari hasil analisis Bank Dunia pada tahun 1991 yang memproyeksikan peningkatan permintaan sayuran rata-rata 3,6%-5% per-tahun pada periode 1988-2010.

Untuk mengantisipasi proyeksi tersebut, pemerintah melakukan berbaai upaya peningkatan produksi berbagai jenis tanaman hortikultura. Kentang menempati peringkat pertama dalam usaha tersebut, dimana secara nasional perkembangan peningkatan produksinya adalah 745.000 ton pada tahun 1993, 783.000 ton pada tahun 1994, 822.000 ton pada tahun 1995, 864.000 ton tahun 1996, 908.000 ton tahun 1997, dan 954.600 ton pada tahun 1998.

Peningkatan kapasitas produksi komoditas kentang di Kabupaten Garut dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Perkembangan Kapasitas Produksi Kentang Periode Tahun 1994-1999
Tahun Luas Lahan (Ha) Luas Panen (Ha) Produksi (Ton)
1994 4.649 4.622 82.468
1995 4.584 3.863 70.206
1996 4.449 4.826 92.273
1997 3.827 5.374 102.583
1998 3.785 4.162 75.028
1999 5.299 4.331 78.638

Sumber : Kompilasi Data Kabupaten Garut Tahun 2000

Dari data nasional dan Kabupaten Garut diatas dapat dikatakan telah terjadi peningkatan dalam target dan kapasitas produksi kentang dari tahun 1994-1997. Pada tahun 1998 di Kabupaten Garut terjadi penurunan kapasitas produksi kentang yang cukup berarti. Tetapi pada tahun 1999 tercatat adanya peningkatan kembali hasil produksi kentang ini.

Penurunan tersebut antara lain disebabkan adanya faktor krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia. Secara umum data tersebut memperlihatkan bahwa komoditas kentang memiliki prospek ekonomi yang baik dan peluang pasar yang masih terbuka lebar, baik untuk pasar domestik maupun untuk pasar luar negeri. Hal itu dapat terwujud jika dilakukan berbagai usaha untuk terus meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi dari komoditas ini, khususnya di Kabupaten Garut.

Komoditas Jaket Kulit

Salahsatu kawasan/sentra industri andalan yang dimiliki ole Kabupaten Garut saat ini adalah sentra industri barang kerajinan dari kulit. Sentra industri ini mempunyai peluang dan prospek yang sangat cerah utnuk dikembangkan menjadi pusat produksi dan perdagangan barang kerajinan dari kulit yang terbesar di Indonesia, seperti halnya Kota Gede di Yogyakarta yang dikenal sebagai sentra barang kerajinan dari perak. Komitmen, kerja keras dan kerjasama dari semua pihak baik dari Pemerintah Daerah, pemilik modal, pengelola, pengrajin maupun masyarakat Garut sendiri akan mampu mewujudkan cita-cita tersebut.

Faktor pendukung terwujudnya sentra industri ini diantaranya adalah, tersedianya bahan baku sesuai dengan kebutuhan. Sumber bahan baku di Kabupaten Garut cukup melimpah dengan lokasi yang strategis, berdekatan bahkan menyatu dalam lingkungan sentra industri kecil penyamakan kulit.

Tersedianya bahan baku yang cukup melimpah berupa kulit tersamak, telah memacu dan memotivasi kreativitas para pengrajin untuk memanfaatkan semaksimal mungkin melalui berbagai kegiatan yang lebih produktif serta mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, baik bagi dirinya maupun masyarakat disekelilingnya. Alternatif kegiatan yang dipilih adalah pembuatan berbagai barang kerajinan dari kulit, seperti jaket, sepatu, sandal, dompet, ikat pinggang, sarung tangan dan produk lainnya.

Saat ini di sentra industri kerajinan kulit Kabupaten Garut tergabung 67 unit usaha, diamana 25 unit usaha diantaranya bergerak dalam pembuatan kerajinan jaket kulit dengan nilai produksi rata-rata mencapai Rp.3.655.717.500,00/tahun. Adanya permintaan terhadap jaket kulit yang terus meningkat dari daerah di luar Kabupaten Garut (pasaran lokal maupun nasional) seperti dari Bandung, Jakarta atau beberapa kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali maupun Sumatera telah mendorong pengrajin jaket kulit di Kabupaten Garut tumbuh dan berkembang lebih cepat dibandingkan pengrajin kulit di daerah-daerah lainnya.

Selain memenuhi permintaan konsumen lokal dan nasional, kerajinan jaket kulit dari Garut juga sudah merambah ke pasar di luar negeri. Sampai saat ini, jaket kulit Garut sudah dieksport ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Taiwan juga Jepang. Volume dan nilai eksport jaket kulit Garut pada tahun 1999 mencapai 4.550 potong (2.250 kg) dengan senilai US $ 240,814.50.

Kapasitas produksi dari sentra industri barang kerajinan kulit Kabupaten Garut untuk berbagai jenis barang kerajinan yang dihasilkannya pada tahun 1999 adalah seagai berikut:
Jaket Kulit Mulus : 38.700 potong
Jaket Kulit Sambung : 193.500 potong
Sarung Tangan : 168.000 pasang
Dompet : 31.500 buah
Sepatu dan Sandal : 135.000 pasang